Kupas Tuntas Seputar I'tikaf - Bismillah berikut tulisan seputar I'tikaf semoga yang sedikit ini bermanfa'at amiin ..
1. Syarat Sah I’tikaf
1.1. Islam
Berdasarkan firman Allah Ta’ala;“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS. At-Taubah : 18)
1.2. Berakal
Sebab orang yang tidak berakal tidak terbebani hukum syari’at.1.3. Mumayyiz
Berarti I’tikaf tidak sah jika dilakukan oleh anak kecil yang belum mumayyiz. Biasanya antara usia 7 sampai 9 tahun.1.4. Suci dari hadats besar
Oleh karena itu i’tikaf tidak sah jika dilakukan oleh orang yang sedang junub, haidh, atau nifas.
1.5. Niat
Berdasarkan sabda Rasulullah;“Sesungguhnya setiap amalan itu berdasarkan niat dan setiap amalan seseorng itu tergantung dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari : 1, Muslim : 1907)
2. Tempat I’tikaf
I’tikaf boleh dilakukan dimasjid manapun, baik itu berupa masjid maupun mushalla, sebab semua ini termasuk keumuman lafazh firman Allah Ta’ala;“Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid.”
(QS. Al-Baqarah : 187)
Terkecuali mushalla yang terdapat di dalam rumah. Disunnahkan i’tikaf dimasji jami’ (yang didirikan shalat jum’at didalamnya) jika dikhawatirkan orang i’tikaf terluput dari melaksanakan shalat Jum’at. Ini pendapat Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan Dawud.
3. Lama Waktu I’tikaf
I’tikaf boleh dilakukan, baik untuk jangka waktu yang lama maupun jangka waktu yang singkat. Yakni sah melakukan I’tikaf dengan berdiam di masjid walaupun untuk beberapa saat saja. Ini adalah pendapat Jumhur ulama’ Asy-Syafi’i, Ahmad, Dawud, dan Abu Hanifah.4. Hal-hal yang Membatalkan I’tikaf
4.1. Keluar dari tampat i’tikafnya tanpa ada kebutuhan yang mendesak
4.2. Melakukan hubungan badan
Firman Allah Ta’ala;“Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid.”
(QS. Al-Baqarah : 187)
4.3. Murtad
Hal ini berdasarkan firman Allah;“Jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu”
(QS. Az-Zumar : 65)
4.4. Mabuk
4.5. Haid dan nifas untuk wanita.
Catatan Kupas Tuntas Seputar I'tikaf :
Seorang yang I’tikaf dianjurkan menyibukkan diri dengan melakukan ketaatan kepada Allah, seperti; shalat, membaca Al-Qur’an, berzikir, membaca shalawat, berdo’a, dsb.Seorang yang melakukan i’tikaf diperbolehkan keluar dari masjid –dan tidak membatalkan I’tikafnya- untuk sesuatu yang darurat atau untuk melaksanakan suatu kewajiban atas dirinya seperti; buang hajat, mencari makan (selama tidak memerlukan waktu yang lama), mengantarkan isteri kerumah jika isteri datang untuk suatu keperluan atau untuk melaksanakan shalat, dsb.
Bagi seorang wanita yang ingin melakukan i’tikaf harus memenuhi 3(tiga) syarat :
Mendapat izin dari suami atau walinya.Aman dari fitnah dan tidak menimbulkan fitnah. Tidak diperbolehkan seorang wanita keluar ke masjid sendirian, atau melewati tempat yang sunyi akan mengundang perbuatan jahat. Seorang wanita juga tidak berhak melakukan I’tikaf jika tidak ada wanita lain yang melakukan I’tikaf. Dan tidak boleh seorang wanita keluar I’tikaf dengan memakai wangi-wangian.
Tidak mengakibatkan kewajiban yang lebih besar terlantar. Seperti; mengurus anak-anaknya.
Jika Seorang wanita beri’tikaf di dalam masjid, maka hendaklah ia menutup dirinya dengan sesuatu. Karena isteri-isteri Nabi ketika hendak ber’itikaf, mereka memrintahkan yang lain untuk membuat semacam kemah yang dibuat didalam masjid.
Diperbolehkan mengkhitbah dan mengadakan akad nikah dengan seorang wanita yang sedang i’tikaf, yang dilarang hanyalah bersenggama.
Disyari’atkan mandi antara Maghrib dan Isya’ pada 10 (sepuluh) hari terakhir di bulan Ramadhan.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ’Aisyah;
”Rasulullah jika bulan Ramadhan (seperti biasa) tidur dan bangun. Dan manakala memasuki 10 (sepuluh) hari terakhir beliau mengencangkan kainnya dan menjauhkan diri dari (menggauli) isteri-isterinya, serta mndi antara Maghrib dan Isya’.”
Ibnu Jarir berkata;
”Mereka menyukai mandi pada setiap malam dari malam-malam 10 (sepuluh) terakhir. Diantara mereka ada yang mandi dan menggunakan wewangian pada malam-malam yang paling diharapkan turun Lailatul Qadar.
Disunnahkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir untuk mencari lailatul qadar. Lailatul Qadar dicari pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan, terlebih di malam-malam ganjil. Yang lebih diharapkan adalah malam 27(dua puluh tujuh).
Disyari’atkan membaca do’a berikut ketika mencari Lailatul Qadar
Dari Aisyah berkata: "Ya Rasulullah, jika aku mengetahui malam lailatul qadar, apa yang aku ucapkan? Nabi menjawab, Ucapkan;
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Pemurah. Engkau mencintai maaf maka maafkanlah aku.” (HR. At-Tirmidzi : 3513 dan Ibnu Majah : 3850)
Alhamdulillah telah selesai disusun pada
17/5/2015
* Sumber : Kitab Fiqih Ramadhan karya ilmiyah Ustadz Abu Hafizhah - Hafizhahullah -
Demikian Artikel Islam Ilmiyah tentang pembahasan " Bekal Ramadhan: Kupas Tuntas Shalat Witir Lengkap "

0 Response to "Bekal Ramadhan: Kupas Tuntas Seputar I'tikaf"
Post a Comment